HIDRO KARBON DAN MINYAK BUMI
I.
PENGERTIAN MINYAK BUMI
Minyak bumi merupakan bahan bakar fosil yang berbentuk cairan kental,
berwarna coklat
atau kehijauan yang mudah terbakar. Minyak bumi terbentuk dari bahan renik yang tertimbun jutaan tahun
yang lalu dengan tekanan dan suhu yang tinggi.
Minyak bumi merupakan salah satu bentuk hidrokarbon, yaitu senyawa kimia yang
mengandung hidrogen dan karbon. Minyak
bumi terletak di lapisan atas dari beberapa tempat di
kerak bumi. Secara bahasa minyak bumi (petroleum) berasal dari bahasa
Yunani πέτρα (petra) yang berarti ‘batu’ dan ἔλαιον (elaison) yang berarti
minyak. Kata petroleum pertama kali digunakan dalam karangan De Natura
Fossilium yang dikarang pada tahun 1546 oleh Georg Bauer yang berkebangsaan
Jerman.
Secara umum minyak bumi terbagi menjadi 2 kelompok berdasarkan zat pembentuknya, yaitu:
A.
Minyak Bumi dari zat Anorganik
Teori pembentukan minyak bumi dari zat anorganik telah ada sejak dulu. Banyak sekali ilmuwan yang melakukan riset dan penelitian untuk membuktikannya hal tersebut. Pada tahun 1877 Dmitri Ivanovick Mendeleev mengemukakan bahwa besi karbida didalam bumi bereaksi dengan air dan membentuk gas asatilena. Reaksi ini mirip dengan reaksi yang terjadi antara batu karbida dan air.
Sebelumnya kimiawan perancis bernama Berthelot pada tahun 1856 menyatakan bahwa
logam-logam alkali dalam bumi bereaksi dengan CO2 pada suhu tinggi
membentuk gas asatilena (C2H2).
B.
Minyak Bumi dari zat Organik
Teori pembentukan minyak bumi dari tumbuh-tumbuhan (zat organik) pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan prancis, P.G. Macquir
pada 1758 yang didasari pada sumber batu bara yang juga berasal dari tumbuhan.
Selain itu terdapat teori yang menyatakan bahwa minyak
bumi berasal dari hewan dikemukakan oleh J.P. Lesley, kemudian dilakukan destilasi minyak bumi dari moluska (hewan lunak) oleh H. Hofer dan
C Heugler. Mereka melakukan distilasi pada daging kerang pada suhu 3000C
– 4000C dan tekanan 10 atm. Pada proses tersebut dihasilkan zat
menyerupai minyak bumi.
Berdasarkan teori pembentukannya, minyak bumi berasal
dari pelapukan oranisme hidup yang berlangsung selama berjuta-juta tahun.
Daerah pantai yang memiliki muara sungai menghadap laut terbuka memiliki
kemungkinan lebih besar memproduksi zat organik. Selanutnya, zat organik
tersebut menyebar ke dalam batuan serpih lempung yang halus, terakumulasi dan
terkonsentrasi.
III. KOMPOSISI MINYAK BUMI
Berdasarkan komposisinya minyak bumi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu Berdasarkan Komposisi Hidrokarbon, Berdasarkan kandungan unsur, dan Berdasarkan Komposisi Molekul Hidrokarbon (Berat).
A. Berdasarkan Komposisi Hidrokarbon, Minyak Tersusun Atas:
1. Alifatik Rantai lurus (Alkana) merupakan sebuah rantai karbon panjang dengan ikatan-ikatan tunggal. Golongan alkanan yang banyak terdapat dalam minyak bumi adalah n-alkana dan isoalkana. n-alkana adalah alkana jenuh berantai lurus dan tidak bercabang. Alkana disebut juga parafin. Parafin adalah senyawa hidrokarbon tersatuasi yang mengandung rantai lurus atau bercabang yang molekulnya hanya terdiri atas atom karbon (C) dan hidrogen (H), contoh etana dan propana.
2. Senyawa Hidrokarbon
bentuk siklik (Sikloalkana)
merupakan senyawa hidrokarbon berantai tunggal dan berbentuk cincin. Senyawa ini memiliki rumus kimia yang sama dengan
alkena (CnH2N), tetapi tidak memiliki ikatan rangkap
dua. Senyawa sikloalkana dalam minyak bumi berupa campuran siklopentana
dan sikloheksana yang disebut naften.
3. Hidrokarbon
Alifatik Rantai Bercabang memiliki
jumlah tidak sebanyak Hidrokarbon
Alifatik Rantai lurus dan
senyawa Hidrokarbon bentuk siklik. Senyawa yang termasuk golongan
hidrokarbon ini adalah isoalkana dan isoparafin.
4. Hidrokarbon
Aromatik merupakan senyawa hidrokarbon yang berbentuk siklik segienam , berikatan rangkap
dua selang-seling dan merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh. senyawa
hidrokarbon aromatik yang terdapat dalam minyak bumi adalah senyawa
benzena, contoh etil benzene, 3,4 – etil benzene.
B. Berdasarkan kandungan unsur, minyak tersusun atas:
1. Sulfur (Belerang) merupakan unsur terbanyak dalam komposisi minyak mentah. Keberadaan belerang
dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline
dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau basah), karena
terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran
gasoline) dan air.
2. Oksigen terbentuk
karena kontak yang cukup lama antara minyak bumi dengan atmosfer di udara.
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah antara 0,05 sampai 1,5 persen
dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik
apabila produk itu terlalu lama berhubungan dengan udara. Senyawa yang
terbentuk dapat berupa: alkohol, keton, eter, dll, sehingga dapat menimbulkan
sifat asam pada minyak bumi. Oksigen dapat meningkatkan titik didih bahan
bakar.
3. Nitrogen dalam minyak bumi memiliki jumlah yang rendah, yaitu 0,1-2%. Kandungan tertinggi terdapat
pada tipe asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapat
membentuk gum (getah) pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat pada
fraksi titik didih tinggi.
4. Unsur-unsur logam lain dalam minyak bumi antara lain besi, tembaga, nikel dan vanadium. Unsur-unsur tersebut pada proses catalytic
cracking dapat mempengaruhi aktifitas katalis. Dikarenakan unsur-unsur tersebut dapat menurunkan produk
gasoline, menghasilkan banyak gas, dan mengakibatkan pembentukkan coke.
B. Berdasarkan Komposisi Molekul Hidrokarbon (Berat), Minyak Tersusun Atas:
IV. PENGOLAHAN DAN HASIL MINYAK BUMI
A. Dalam pengolahan minyak bumi terdapat 6 proses antara lain:
1. Distilasi atau
penyulingan merupakan cara
pemisahan campuran senyawa berdasarkan pada perbedaan titik didih komponen-komponen penyusun campuran tersebut.
Cara distilasi yang dilakukan dengan menggunakan
beberapa tingkatan suhu pendingin atau pengembunan disebut dengan distilasi
bertingkat.
2. Cracking merupakan proses penguraian (pemecahan) molekul-molekul senyawa
hidrokarbon yang besar menjadi molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang kecil.
Contoh cracking antara lain pengubahan minyak solar atau minyak tanah (keosin)
menjadi bensin.
3. Reforming merupakan proses pengubahan bentuk molekul bensin yang bermutu kurang
baik (rantai karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih baik (rantai
karbon bercabang). Kedua jenis bensin ini memiliki rumus molekul yang sama,
tetapi bentuk strukturnya berbeda sehingga proses ini disebut isomerisasi.
Reforming dilakukan dengan katalis dan pemanas.
4. Polimerisasi merupakan proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul-molekul besar. Contohnya, penggabungan senyawa isobutena dengan senyawa
isobutana yang menghasilkan bensin berkualitas tinggi.
5. Treating merupakan proses pemurnian minyak bumi dengan cara
menghilangkan pengotor-pengororannya. Proses treating antara lain: 1) Cooper
Sweetening adalah proses penghilangan bau tidak sedap, 2) Acid Treatment adalah
proses penghilangan lumpur, 3) Desulfurizing adalah proses penghilangan unsur
belerang.
6. Blending merupakan proses pencampuran dengan tujuan memperoleh kualitas bensin yang baik. Terdapat sekitar 22 bahan pencampur (zat aditif) yang dapat
ditambahkan dalam proses pengolahan. Bahan pencampur tersebut antara lain
tetraethyllead (TEL), MTBE, etanol, dan methanol.
B.
Hasil pengolahan minyak bumi:
Hasil pengolahan minyak bumi salah satunya adalah bensin. Komponen utama dalam bensin antara lain n-heptana (C7H16) dan isooktana
(C8H18). Kualitas bensin ditentukkan oleh kandungan
isooktana (bilangan oktana). Bilangan oktana untuk n-heptana = 0 dan isooktana
=100.
Fungsi kandungan isooktana pada bensin antara lain:
1. Mengurangi ketukan (knocking) pada mesin
2. Meningkatkan
efisiensi pembakaran sehingga energi yang dihasilkan lebih besar.
Bilangan oktan bensin dapat ditingkatkan dengan:
1. Memperbesar
kandungan isooktana
2. Menambahkan zat
akditif antiketukan (TEL, MTBE, dan etanol)
1) Tetrathylleed (TEL) Pb (C2H5)4 dalam prosesnya harus diubah dulu dalam bentuk gas dikarenakan dalam bentuk padat sulit untuk diolah. Dalam proses tersebut juga ditambahkan
zat aditif lain yaitu etilen bromida (C2H5Br) yang
nantinya akan bereaksi membentuk uap PbBr2. Namun Pb nantinya dapat
membahayakan kesehatan karna merupakan logam berat.
2) Methyl Tertier
Buthyl Ether (MTBE) memiliki
bilangan oktan 118, dan lebih aman dibanding TEL karena tidak mengandung logam
berat namun tetap berpotensi mencemari lingkungan karena sulit diuraikan mikroorganisme.
3) Etanol memiliki bilangan oktan 123 dan lebih unggul dibanding
TEL dan MTBE karena tidak mencemari lingkungan dan mudah diuraikan oleh
mikroorganisme. Etanol terbentuk dari hasil fermentasi tumbuh-tumbuhan yang
melimpah dialam dan dapat dibudidayakan.
V. PEMANFAATAN MINYAK BUMI
Banyak sekali pemanfaatan minyak bumi dalam kehidupan, baik dalam industri maupun kebutuhan rumah tangga. Pemanfaatan minyak bumi antara lain:
1. Bahan bakar gas
1) Liquefied Natural
Gas (LNG) Terkenal sebagai gas rawa yang terdiri atas 90% metana dan 10% butana.
2) Liquefied Petroleum Gas (LPG) mempunyai komponen utama propana (C3H8) dan butana (C4H10).
Bahan bakar gas digunakan untuk keperluan rumah tangga
dan industri. Pada kendaraan bermotor bertujuan menekan pencemaran udara.
Selain itu digunakan sebagai bahan pembuatan plastik dan zat aditif bensin.
2. Pelarut dalam
industri, contoh petroleum enter
3. Bahan bakar
kendaraan bermotor, contoh bensin dan solar.
4. Bahan bakar rumah
tangga dan bahan pembuatan bensin
5. Bahan bakar untuk
mesin diesel.
6. Minyak pelumas
7. Bahan baku
pembuatan sabun dan detergen.
VI.
DAMPAK PENGGUNAAN MINYAK BUMI
Selain memiliki dampak postif, minyak bumi juga memiliki dampak yang negatif untuk kehidupan manusia. Dampak tersebut antara lain:
1. Pemanasan Global. Penggunaan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan ataupun dalam
perindustrian yang mengeluarkan karbon dioksida dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran udara. Selain hal tersebut, karbon dioksida yang dihasilkan juga
dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global yang nantinya juga akan
mempengaruhi
2. Pencemaran
Air. Proses pembentukan minyak bumi sering
terjadi di daerah sekitar pantai. Sedangkan pendistribusiannya dilakukan dengan
ditampung dengan kapal khusus untuk menampung minyak bumi. Hal tersebut
mengkhawatirkan dikarenakan kapal dapat mengalami kebocoran maupun kebakaran. Hal
ini tentunya akan menyebabkan minyak yang ditampung di kapal tersebut menjadi
tumpah ke laut dan akan mengganggu ekosistem air laut. Tidak hanya itu, selain mengganggu ekosistem air laut juga
mencemari perairan disekitarnya yang dapat menyebabkan keanekaragaman hayati
laut menjadi banyak yang mati.
3. Pencemaran Udara. Asap yang dikeluarkan dari kendaraan membuat udara menjadi tercemar dan
menjadi udara yang tidak sehat.
4. Lahan Tanah Menipis. Pengeksplorasian terhadap sumber minyak bumi
memiliki dampak menipisnya lahan tanah. Hal tersebut akan mengganggu
keseimbangan tata guna lahan.
5. Mempengaruhi Iklim. Udara yang telah tercemar oleh gas-gas berbahaya nantinya akan mempengaruhi
iklim dunia. Dimana gas-gas tersebut nantinya akan terkumpul dalam lapisan atmosfer yang lama kelamaan akan
mengendap disana. Hal ini tentunya akan membuat lapisan ozon menjadi tidak
stabil dan terjadinya perubahan iklim seperti musim hujan yang sangat lama
serta musim panas yang sangat ekstream.
6. Hujan Asam. Pada proses pembakaran minyak
bumi tentunya akan melepaskan gas yang berupa CO2, NO2 dan SO2 (sulfur) yang
dari ketiga gas tersebut nantinya akan menyebabkan terjadinya hujan asam.
VII.
PENCEGAHAN PENCEMARAN MINYAK BUMI:
Penggunaan
minyak bumi memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan. Apabila minyak bumi
mencemari lingkungan hal tersebut sangat membahayakan. Cara
mengatasi pencemaran minyak bumi adalah:
1. Mengembangkan
mobil listrik dan mobil surya.
2. Memproduksi biodisel sebagai pengganti solar.
3. Membangun taman kota untuk menjaga kestabilan tata
guna lahan.
4. Memproduksi bensin bebas timbel.
5. Memproduksi bioetanol sebagai pengganti bensin.
No comments:
Post a Comment